Nyanyian dari Hati untuk Papa Francesco
April 22, 2025LP3KN.OR.ID – Kami hanyalah sekelompok penyanyi. Enam puluh di antara enam ratus.
Pengurus LP3KN, juri-juri yang pernah bertugas di Pesparani, para simpatisan—beragam latar, satu suara mengumandangkan kidung surgawi untuk hati yang lembut yang bertandang ke negeri ini.
September tahun lalu, suara kami dipanggil untuk sesuatu yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya: mengiringi Misa Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia.
Persiapannya? Singkat.
Seperti orang pacaran LDR, latihan di tempat masing-masing, penuh kreasi dan komunikasi koordinasi lewat whatsapp group, diaspora memang.
Tapi hati kami? Tak pernah tersambung sekuat itu.
Kami bukan sekadar paduan suara, kami pasukan doa dalam harmoni.
Hari itu datang.
Kamis, 5 September 2024, Stadion Gelora Bung Karno yang biasanya dipenuhi sorak-sorai olahraga, berubah menjadi ruang suci. 87.000 umat hadir—tertib, tenang, dan khusyuk.
Langit Jakarta cerah, diselingi hujan, diberkati doa dan matahari bersinar kencang menyambut Sang Paus dan umatnya berdoa.
Kami bernyanyi dekat altar, hanya beberapa meter dari Papa Francesco, Sang Gembala Dunia.
Sosoknya renta, tapi pesonanya membahana, penuh dengan senyuman.
Ia berjalan perlahan, dengan senyum hangat dan lambaian tangan yang sederhana—
dan entah bagaimana, kami semua menangis haru dan sekaligus memuji Allah – Dia Hidup.
Hati kami terharu, bangga. Hati beliau seperti doa yang hidup: tenang, bersahaja, namun membakar semangat.
Di tengah deretan umat, kami menyanyi: bukan sekadar nada, tapi syukur. Walau tenggorokan kering, hati kami mengalirkan pujian.
Walau latihan terbatas, kami menyanyikan cinta dengan suara yang tak pernah diajarkan: suara pengabdian.
Dan setiap bait lagu menjadi gema dari pesan-pesan kemanusiaan Paus yang selama ini kami hayati dalam diam—dan kini dinyanyikan bersama seluruh bumi Indonesia:
Kasih dan Persaudaraan
Saat Paus membuka Misa hati kami langsung luluh.
Ia menyapa bukan hanya umat Katolik, tapi seluruh anak bangsa.
Pesannya tentang membangun jembatan antaragama begitu nyata di hadapan kami.
Kami menyanyi sambil menatap wajah para pemimpin lintas agama duduk berdampingan, dalam satu damai, satu doa.
Keadilan dan Keberpihakan kepada Kaum Papa
Dalam homilinya, Papa Francesco menyerukan agar Gereja “tidak hanya menjadi rumah doa, tetapi rumah bagi mereka yang tak punya rumah, rumah bagi hati yang tersingkir.”
Dan kami pun menyadari, tugas menyanyi hari itu bukan sekadar liturgi— tapi sebuah pelayanan profetik.
Kesederhanaan dan Keberanian Moral
Ia datang tanpa atribut megah.
Bahkan sepatu, songkok, busana, jam tangannya bukan baru melainkan apa adanya. Ia meminta pelayanan yang biasa saja, tidak mewah,
dan memilih naik mobil tanpa kekebalan peluru, membuka kaca dan menyapa semua. Di balik semua itu, kami melihat kekuatan iman yang tak bisa dibungkus protokol.
Perdamaian dan Persatuan
Paus menyampaikan harapannya agar Indonesia,
dengan segala keberagamannya, menjadi “mercusuar perdamaian dunia.”
Kami menyanyikan lagu-lagu misa dalam Bahasa Indonesia, Latin dan berbagai Bahasa Suku di Indonesia.
Harmoni itu bukan hanya musik—itu wajah Indonesia yang Paus cintai.
Kepedulian Lingkungan
Paus menyerukan pertobatan ekologis: “Rawatlah bumi ini seperti saudara.”
Dan ketika doa umat dibacakan oleh anak-anak muda yang membawa tanaman hijau ke altar, kami tersenyum, terharu—karena di tengah hiruk pikuk dunia, Paus tetap mengingat akar kehidupan: bumi.
Saat misa berakhir, dan Papa Francesco mengangkat tangan memberkati kami, kami merasa seolah diberi restu bukan hanya sebagai paduan suara—
tapi sebagai penyala damai, penyebar harapan, penyanyi kasih.
Kami tahu, momen ini tak akan terulang.
Tapi Paus Fransiskus, dengan senyum dan lambaian tangannya, seperti berkata:
“Tak perlu sempurna untuk melayani”
Kini, dunia berduka.
Papa Francesco telah pulang ke rumah Bapa, wafat damai di usia 88, setelah menyapa umat untuk terakhir kalinya di Paskah.
Ia tak meminta megah.
Ia memilih peti kayu biasa, dan tempat peristirahatan bukan di Vatikan,
melainkan di Basilika Santa Maria Maggiore—tempat ia biasa berdoa dalam diam.
Ah, Paus kami yang sederhana, bahkan dalam kematian, kau mengajari kami arti hidup.
Papa Francesco, terimakasih.
Atas kasih dan persaudaraan yang kau tabur. Atas keberanian membela kaum papa.
Atas kesederhanaan yang tak pernah kau tinggalkan.
Atas jembatan damai yang kau bangun, dari Roma hingga Nusantara. Atas nyanyian iman yang kini kami teruskan,
dalam langkah kecil kami sehari-hari.
Burung merpati terbang ke barat, Hinggap di dahan bawa kabar kasih. Selamat jalan, Papa yang hangat, Namamu hidup dalam nyanyian abadi.
Jalan setapak menuju surga, Disinari sinar bulan yang terang. Papa Francesco, engkau telah jaga,
Dunia ini dengan kasih yang tak lekang.
Selamat jalan, Papa Francesco.
Dari kami, 60 penyanyi biasa,
yang pernah kau beri kehormatan untuk menyanyi dari dekat—
bukan hanya untukmu, tapi bersamamu.
Dan kami berjanji, lagu kasihmu tak akan pernah berakhir. Ia akan terus kami nyanyikan—di altar, di jalan, di hati—
hingga dunia menjadi nyanyian damai, seperti yang engkau impikan.
Leonardus Yoseph
Koordinator Penyanyi Paduan Suara Misa Paus GBK
“ceremonarius untuk dirigen dan organis”
Ditulis dengan penuh cinta untuk Paus Fransiskus.
Pjs. Ketua Bidang Susdiklat LP3KN



