Gelar Workshop, LP3KN Ingin Wujudkan Sistem Penilaian Pesparani yang Inklusif dan Menjawab Kebutuhan Liturgi Gereja Katolik
April 8, 2025LP3KN.OR.ID – Salah satu tugas LP3KN sebagaimana disebutkan dalam Statuta LP3KN 2019 adalah menyelenggarakan Pesparani Katolik Nasional (Pasal 10 ayat (1)). Pesparani sebagai suatu aktivitas seni budaya masyarakat Katolik dalam bentuk pagelaran dan lomba Musik Liturgi dan nyanyian dengan tujuan mengembangkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan masyarakat Katolik terhadap ibadah/liturgi gerejani. Pesparani Katolik Nasional adalah festival lagu-lagu gerejani dalam bentuk paduan suara dan khazanah gerejani lainnya yang digali dari kearifan lokal untuk menjadi bagian dari perayaan liturgi gerejani, sekaligus memperkaya lagu-lagu yang digunakan dalam perayaan gereja Katolik. Hal ini sejalan dengan amanat Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sactosanctum Concilium).
Semenjak pendiriannya tahun 2016, LP3KN sudah melaksanakan tiga kali Pesparani Katolik Nasional, yaitu Pesparani I 2018 di Ambon, Pesparani II 2022 di Kupang, dan Pesparani III 2023 di Jakarta. Berdasarkan evaluasi terhadap tiga event pelaksanaan Pesparani Katolik Nasional tersebut ditemukan bahwa penilaian dianggap belum sesuai dengan harapan. Kategori penilaian dimaksud meliputi a) kriteria juri dan penjurian, b) lagu dan kriteria pemilihan lagu, dan 3) jenis lomba dan kriterian perlombaan.

Penampilan Peserta Lomba Paduan Suara Dewasa Campuran Pada Pesparani Katolik Nasional II Kupang 2022
Setiap penyelenggaraan Pesparani Katolik Nasional kerap kali mengadopsi sistem penilaian yang dikenal sebagai Musica Mundi untuk menilai penampilan paduan suara dan penyanyian mazmur. Sistem ini dirancang untuk mendukung standarisasi penilaian di kancah internasional. Namun, bagaimanakah sebenarnya sistem penilaian Musica Mundi ini berfungsi, dan mengapa penting bagi paduan suara?
Musica Mundi adalah sistem penilaian yang obyektif dan terstandarisasi yang berfokus pada aspek teknis dan artistik dari pertunjukan paduan suara, mencakup berbagai elemen seperti vocal quality, intonasi, dinamika, dan interpretasi. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan jaminan penilaian penyelenggaraan lomba paduan suara. Dalam konteks Pesparani, sistem ini diharapkan mampu meningkatkan standar dan mutu pertunjukan atau perlombaan, serta memberikan dorongan bagi pengembangan kemampuan vokal dan musikal para peserta.
Baca juga : Mgr. Petrus Turang: Berbuat Lebih Demi Pesparani Katolik Nasional II Kupang
Penting diperhatikan dan dicatat bahwa sistem penilaian Musica Mundi ini tidak sepenuhnya cocok diterapkan dalam konteks lomba Paduan Suara Pesparani. Pesparani bukan sekadar ajang lomba, melainkan juga sebagai wadah untuk memperkuat kebersamaan dan praktik paduan suara sebagai scholae cantorum – suatu peran penting Paduan Suara dalam mendukung ibadat dan liturgi Gereja. Musik liturgi dalam konteks ini harus lebih dari sekadar keindahan suara; ia juga harus mampu menciptakan suasana yang mendukung doa dan penghayatan iman, mencerminkan kebersahajaan dan keindahan surgawi yang menjadi inti dari pengalaman liturgi.
Pemikiran ini sejalan dengan prinsip-prinsip yang tertuang dalam dokumen gerejawi diantaranya Sacrosanctum Concilium, Dokumen Musica Sacra, dan Pedoman Umum Misa Romawi (PUMR). Ketiga dokumen tersebut menekankan bahwa musik liturgi haruslah mendukung partisipasi umat dan menciptakan pengalaman rohani yang mendalam. Dalam hal ini, penilaian paduan suara yang akan disusun untuk Pesparani harus lebih mengutamakan aspek-aspek tersebut dibandingkan hanya sekadar penilaian teknis berdasarkan keindahan suara.

Oleh karena itu, untuk mencapai cita-cita ini, Workshop Panduan Sistem Penilaian Pesparani ini perlu disusun dengan melibatkan narasumber dan peserta yang kompeten. Narasumber yang dimaksud adalah RD Fransiskus Yance Sengga, Anggota Tim Musik Liturgi KWI dan, dan Dr. Roni Sugiarto, ST. MT. praktisi musik dan juri Pesparani II dan III. Mereka diharapkan mampu membumikan penilaian paduan suara dan menyanyikan mazmur yang tidak hanya berorientasi pada cita rasa musikal yang tinggi tetapi juga mengedepankan nilai-nilai musik liturgi yang sejati. Dengan pendekatan ini, diharapkan Pesparani dapat menjadi sarana yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas ibadah dan pengalaman iman bagi seluruh umat.
Event Pesparani Nasional merupakan wadah Gereja Katolik dan Pemerintah untuk menggalang pesatuan dan kesatuan anak bangsa melalui perjumpaan, kerja sama dan kolaborasi menghasilkan lagu-lagu dan aktivitas Gereja Katolik lainnya. Keterlibatan berbagai pihak (tidak hanya umat Katolik) dalam pelaksanaan Pesparani, termasuk Pesparani Nasional IV 2026, menjadi wujud kekuatan iman yang inklusif, iman Gereja yang menyejarah, iman yang sinodal.
Dengan demikian, Workshop Penyusunan Panduan Musica Mundi ini menjadi langkah penting mewujudkan sistem penilaian yang lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan liturgi Gereja Katolik, yang pada akhirnya membawa umat lebih dekat kepada pengalaman spiritual melalui musik.
Ketua Bidang Pendidikan/Kursus/Pelatihan Musik dan Lagu Gerejani LP3KN





[…] Baca juga : Gelar Workshop, LP3KN Ingin Wujudkan Sistem Penilaian Pesparani yang Inklusif dan Menjawab Kebutuhan… […]