Harmoni Pengabdian Seorang Maestro dari Borneo

Harmoni Pengabdian Seorang Maestro dari Borneo

Mei 11, 2025 0 By Redaksi

LP3KN.OR.ID – Nama Dr. Aloysius Mering mungkin tak sering terdengar di panggung nasional, namun di bumi Kalimantan Barat dan sekitarnya, ia adalah sosok yang tak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan, musik, dan pelayanan Gereja. Pria kelahiran Padua, Putussibau, 7 Januari 1957 ini telah menempuh perjalanan panjang sebagai pendidik dan musisi, membaktikan hidupnya untuk membina insan muda, menyalakan semangat liturgi, dan memperkaya khasanah musik inkulturatif di tanah Dayak dan sekitarnya.

Lulus dari ABA Pontianak di bidang Bahasa Inggris, Aloysius melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang doktoral di Universitas Negeri Jakarta dengan spesialisasi Psikometrika Kependidikan. Kariernya menanjak dari guru SD hingga dosen S3 di FKIP Universitas Tanjungpura. Ia juga pernah menjabat sebagai pejabat di Dinas Pendidikan Kalbar dan menjadi Wadir 1 di IPDN Kalbar. Bagi banyak murid dan kolega, sosoknya bukan sekadar pengajar, tapi inspirasi hidup yang nyata: seorang pendidik yang menaburkan ilmu sambil menyemai nilai budaya dan iman.

Namun panggilan hidup Dr. Aloysius tak hanya di dunia akademik. Musik menjadi jiwa kedua dalam kiprahnya. Ia mengajar musik di berbagai sekolah, menjadi dosen musik di Untan, dan mendirikan kelompok-kelompok vokal ternama seperti Bina Vokalia Harmonia, PSW Vox Amor, dan PS Gregorius Agung. Karyanya meliputi penciptaan lagu rohani, nasional, hingga liturgi inkulturatif, termasuk lagu-lagu mazmur yang diterbitkan oleh KWI. Tak hanya di dalam negeri, dedikasinya bahkan menembus batas negara lewat pelatihan musik di Kuching, Malaysia, dan menjadi pengajar tamu di sekolah musik Sarawak.

Baca  juga: Dharma Oratmangun: Hak Cipta Adalah Hak Ekonomi, Bukan Sekedar Pengakuan Moral

Dedikasi panjang itu membuahkan banyak penghargaan nasional dan internasional, termasuk atas karya monumental seperti Hymne Dayak Nasional dan Mars Dayak Borneo. Ia juga menjadi juri dalam berbagai ajang lomba seni dan budaya, termasuk kompetisi tingkat nasional dalam bidang musik liturgi. Tak heran bila sosok ini dipercaya menjadi bagian penting dalam Munas III LP3KN tahun 2025, sebagai suara dari wilayah yang kaya budaya dan komitmen terhadap pengembangan musik Gereja.

Dalam Munas kali ini, Dr. Aloysius membawa harapan besar, khususnya terhadap penyusunan STATUTA yang akan menjadi pijakan bersama seluruh pemangku kepentingan Gereja Katolik. Baginya, STATUTA harus mampu merekatkan umat sebagai simbol kesatuan, sekaligus menjadi landasan kuat untuk pengembangan dan pembinaan iman umat, khususnya dalam liturgi yang hidup dan bermakna. “Munas ini harus menghasilkan keputusan yang teruji, diterima semua pihak, dan dapat diimplementasikan secara nyata,” tegasnya.

Sebagai peserta yang juga aktif sejak tahap pra-MUNAS, ia mencermati betul dinamika yang terjadi dan menyampaikan catatan penting agar setiap proses menghasilkan keputusan yang tak hanya administratif, tapi benar-benar menjadi roh pembaruan Gereja dari akar rumput. Ia berharap agar LP3KN semakin peka terhadap keragaman budaya dan memperkuat peran seni dalam pewartaan iman.

Aloysius juga melihat pentingnya regenerasi dalam tubuh LP3KN dan Gereja pada umumnya. Ia percaya bahwa seni dan musik memiliki kekuatan transformatif untuk menjangkau generasi muda. Maka, membina mereka bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari misi pewartaan itu sendiri. “Musik bukan hanya untuk didengar, tapi untuk dihayati. Ia membawa kita masuk dalam perjumpaan dengan Tuhan dan sesama,” ujarnya.

Dengan semangat tersebut, Dr. Aloysius tidak hanya hadir sebagai peserta Munas, tapi juga sebagai penjaga bara semangat yang telah ia nyalakan sejak muda: agar Gereja menjadi ruang di mana seni, budaya, dan iman bertemu dan menghidupi satu sama lain. Baginya, suara liturgi tak hanya indah karena nada, tetapi karena menyuarakan hati umat yang bersatu.

Munas ini menjadi momentum penting untuk menata kembali arah gerak LP3KN, dan Aloysius Mering ingin memastikan bahwa setiap keputusan di dalamnya benar-benar mencerminkan harapan umat di akar rumput. Ia datang dengan suara dari barat Kalimantan, membawa nada-nada yang tak hanya untuk dinyanyikan, tapi juga untuk direnungkan dalam semangat sinodalitas dan pelayanan.

Dalam usianya yang ke-68, Dr. Aloysius Mering membuktikan bahwa pengabdian tidak pernah mengenal kata pensiun. Ia adalah harmoni antara ilmu, iman, dan seni yang terus bergetar—bagi Gereja, bangsa, dan masa depan generasi muda. Dan dari Munas LP3KN ini, ia berharap nada-nada itu akan terus mengalun, memberi arah dan makna bagi perjalanan umat Katolik Indonesia.

Share and Enjoy !

Shares