KOR : Sang Jurnalis Pewarta Pesparani
April 14, 2026LP3KN.OR.ID – Inilah uraian penghormatan mengenang jurnalis KOMPAS, Kornelis Kewa Ama (KOR) yang berpulang pada 11 Maret 2026. Hidup dan karya sebagai jurnalis KOMPAS dimulai sejak tahun 1999. Dia mengabdikan diri untuk KOMPAS dan masyarakat Indonesia di beberapa wilayah antara lain; NTT, Papua, dan Timor-Leste. Sebagai jurnalis KOMPAS di NTT, dia meliput, menulis, dan memperkenalkan NTT termasuk LP3KN dan LP3KD serta Pesparani Katolik Nasional II Kota Kupang secara berkelanjutan. Pewartaan Kornelis Kewa Ama sang jurnalis KOMPAS selalu bergema positif dan apresiatif. Hal ini ditunjukkan juga melalui pewartaan tentang sosok Fransiskus Cornelis Dianbunda bertajuk “Orang di Balik Gemu Famire”. Profesi sang jurnalis didasarkan pada suatu modalitas etik yang dibawa dari tempat persemaian pendidikan di Seminari Menengah Hokeng, kemudian Seminari Tinggi Ledalero, selanjutnya pewartaan KOMPAS the mainstream media in Indonesia. Pewartaan sang jurnalis bermutu, berpengaruh, efektif, dan credible terkait kehidupan masyarakat serta kelangsungan institusi.
Sang Jurnalis Berkarya
Kornelis Kewa Ama (KOR) memulai pengembangan kualitas dirinya melalui pendidikan dan karya yang jelas serta bermakna. Kehidupan dan perjuangan berjalan melalui lintasan peristiwa yang bernilai. Kemudian, semuanya dilakukan sang jurnalis melalui metode yang komprehensif dan suportif. Metode yang dipakai sesuai dengan kriteria institusi pendidikan serta lembaga pemberitaan seperti KOMPAS tempat pengabdian sang jurnalis
Berkarya melalui kebebasan ekspresi dan analisis, secara potensial berdampak positif terhadap masyarakat dan pemerintah. Kembali pada contoh di atas, pemberitaan tentang popularitas “Gemu Famire” lagu ciptaan Fransiskus Cornelis berdampak pada penilaian positif masyarakat dalam hal pengembangan seni budaya vocal local, tarian dan senam ritmik. Popularitas “Gemu Famire” merambat ke seluruh Nusantara dan dunia pariwisata. Sementara “Gemu Famire” menggema ke seluruh dunia, KOR menguraikan sosok Fransiskus Cornelis si pencipta lagu tersebut (Kompas, Sabtu 10 Maret 2018). KOR memulainya dari pemikiran Fransiskus Cornelis untuk menciptakan lagu khas lokal Maumere-Ende yang selaras dengan seni budaya Maumere Sikka dan Ende Lio.
Kualitas pewartaan KOR tentang lagu “Gemu Famire” dan sosok pencipta Fransiskus Cornelis terdapat pada hasil wawancaranya bahwa syair lagu “Gemu Famire” diambil dari bahasa leluhur bahasa Lio dan bahasa Sikka kemudian dirangkai dengan notasi musik yang berirama. Penggunaan bahasa leluhur bahasa lokal menjadi model unik sebagai suatu model musik etnik. Hal ini seperti yang ditunjukkan dan dikembangkan LP3KN-LP3KD pada setiap Pesparani Katolik Nasional. Pertunjukkan musik dan seni tradisi etnik merupakan pengenalan dan pembelajaran yang menarik dan efektif bagi setiap generasi yang terlibat.
Selanjutnya, KOR menyampaikan latar si pencipta lagu “Gemu Famire” Fransiskus Cornelis sebagai seorang guru musik di SMA St. Yohanes XXIII Kota Maumere. Sebagai bapak guru yang konsentrasi pada bidang musik, Fransiskus Cornelis belajar dan belajar terus secara otodidak, melalui buku-buku referensi di Perpustakaan STFK Ledalero serta melalui internet. Pencapaian prestasi di bidang musik juga tidak terlepas dari pengalaman kolaborasi pentas musik bersama Frater-frater Seminari Tinggi Ledalero. Apresiasi terhadap Fransiskus Cornelis meningkat seiring semakin populer dan familiar “Gemu Famire” di masyarakat nasional dan internasional.
Baca juga: Preferensi Kerja Sepanjang Tahun 2026
Potensi dan pengabdian Fransiskus Cornelis dalam bidang musik pun dihormati dan dihargai LP3KN-LP3KD melalui penganugerahan “Pesparani Award” bagi musisi lokal dan nasional pada Pesparani I Kota Ambon (Buku Panduan Pesparani Katolik Nasional I, 27 Oktober – 2 November 2018). Di balik penghargaan tersebut KOR sang jurnalis telah menunjukkan sosok Fransiskus Cornelis pada pewartaannya di Kompas 10 Maret 2018. Inilah kualitas dan konsentrasi sang jurnalis pada berbagai topik termasuk promosi aktor-aktor seni budaya yang terkadang terlewati.
Pesparani II Kota Kupang
Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 483 Tahun 2022, Pesparani Katolik Nasional II diselengarakan di Kota Kupang, NTT (Buku Panduan Penyelenggaraan Pesparani Katolik Tingkat Nasional II). KOR sang jurnalis memusatkan perhatian pada pewartaan Pesparani II melalui KOMPAS sepanjang tahun 2022. Data menunjukkan bahwa seharusnya Pesparani II sudah diselenggarakan di Kota Kupang pada tahun 2020. Unfortunately, Pesparani II ditunda selama dua tahun karena dunia dilanda Pandemi Covid-19. Sementara persiapan menuju Pesparani II sudah direncanakan dan dijalankan setelah Pesparani I Kota Ambon.

Semarak kontingen peserta pada Pembukaan Pesparani Katolik Nasional II Kupang, 28 – 31 Oktober 2022
KOR memberitakan secara positif Pesparani II mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disampaikan terkait dengan peningkatan okupansi hotel di Kupang NTT. Data lebih dari 1190 tamu visit Kupang pada penyelenggaraan Pesparani II. Selanjutnya rumah-rumah makan, restoran, dan UMKM pun mengalami peningkatan nilai ekonomi. KOR memberikan informasi dan gambaran berdampak positif penyelenggaraan Pesparani II di Kupang NTT. Hasil survei Litbang LP3KN bersama LP3KD NTT, juga menunjukkan 80% responden menyatakan UMKM meningkatkan pereknomian masyarakat lokal.
Pewartaan KOR berkaitan dengan Pesparani II Kupang adalah menunjukkan juga dampak toleransi dan partisipasi Umat Islam dalam ikatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan dan Tokoh Muslim NTT. Mereka menunjukkan partisipasi dan sumbangan significant untuk penyelenggaraan Pesparani II di Kota Kupang NTT (Kompas, 18 Juli 2022). Dengan kata lain, kebebasan dan solidaritas antarumat beragama bukan tanpa nilai. Hal ini menujukkan bahwa Pesparani II Kupang secara internal meningkatkan iman umat beragama dan secara eksternal Pesparani II Kupang bermakna positive relation. Di sini, uraian dan penjelasan KOR sang jurnalis dalam pemberitaan selalu bermakna positif serta dapat diterima dengan baik oleh masyarakat lintas agama dan sektor.
Pesparani II Kupang sudah selesai diselenggarakan selama 28-31 Oktober 2022. Sang jurnalis yang mewartakan Pesparani II Kupang pun sudah menutup hidup dan karyanya pada 11 Maret 2026. Sang jurnalis yang sederhana dan rendah hati telah menunjukkan perhatian yang lebih dan tinggi untuk karya pewartaan tentang masyarakat dan pemerintah serta kepentingan masyarakat dan institusi. Hampir sebulan dia tidak menulis dan tidak mewartakan artikel dari KOMPAS. Dalam kebebasan beriman yang mendalam, dia telah menyerahkan hidup dan karya untuk selamanya kepada Allah Yang Mahakasih. Selamat Jalan Sahabat, Sang Jurnalis Pewarta Pesparani. Selamat Hidup Kekal bersama Tuhan Yesus Kristus yang bangkit, Alleluia-Alleluia-Alleluia.




[…] Baca juga: KOR: Sang Jurnalis Pewarta Pesparani […]