Menggalakkan Pengembangan dan Pembinaan Paduan Suara Menuju Pesparani 2026
April 14, 2025LP3KN.OR.ID – Hadir sebagai narasumber pada Workshop Penyusunan Panduan Musica Mundi Pesparani LP3KN, Roni Sugiarto menyampaikan pentingnya pembinaan kelompok paduan suara di daerah (LP3KD) dan kontekstualisasi kriteria penilaian lomba paduan suara Pesparani.
“Kita mesti, LP3KN utamanya, tidak cukup hanya sharing detail-detail yang ada, yang menjadi kriteria penilaian pada lomba yang akan diadakan pada Pesparani nanti,” kata Roni saat ditemui disela-sela kegiatan Workshop Penyusunan Panduan Musica Mundi Pesparani, di Wisma Hijau Depok pada Sabtu 12 April 2025.

Roni Sugiarto (kiri) dan Romo Yance (kanan) dalam pemaparan materi pada Workshop Penyusunan Panduan Musica Mundi Pesparani, di Wisma Hijau Depok, 12 April 2025
Roni mengatakan perlunya sarana dan prasarana pembinaan di daerah. Hal itu diusulkannya sebagai upaya untuk membangun standar yang sama antara seluruh LP3KD. “Kita misalnya membuat pembinaan dalam bentuk workshop, seperti workshop membuat intonasi yang baik misalnya, atau bagaimana menginterpretasikan lagu Gregorian itu, kan ada banyak aspek di sana yang perlu didalami. LP3KN harus menjembatani itu,” tutur dia.
Baca juga: Menag RI Tekankan Pentingnya Sisi Keimanan Pada Kegiatan Keagamaan
Roni yang merupakan Dosen Unika Parahyangan, yang juga pelatih Saint Angela Choir, Paduan Suara Mahasiswa ITB itu juga menyampaikan, penting juga untuk memisahkan penempatan musik liturgi dalam perayaan sakramen dan musik liturgi dalam lomba. Karena itu, menurut dia, LP3KN harus memikirkan bagaimana cara meramu agar khalayak imam ataupun awam tidak beranggapan bahwa musik liturgi itu tidak seharusnya dilombakan. LP3KN diharapkan mampu merumuskannya dalam balutan yang lebih luas, agar khalayak tidak sekedar melihat bahwa musik liturgi harus dibawakan dalam konteks perayaan sakramen ekaristi.

Peserta Workshop Penyusunan Panduan Musica Mundi Pesparani, Depok 11 – 13 April 2025
Romo Fransiskus Yance Sengga, yang akrab disapa Romo Yance, salah satu narasumber pada Workshop Penyusunan Panduan Musica Mundi Pesparani juga turut menyampaikan pandangannya mengenai musik atau nyanyian inkulturasi. Menurutnya, proses inkulturasi liturgis itu sesungguhnya terjadi dalam lingkup Gereja lokal. Dalam proses lokakarya musik liturgi, terjadi penyesuaian, penyelarasan dan pemurnian terhadap melodi asli lagu.
“Menjadi lagu inkulturasi yang menampakkan aspek Nobile Sempliciter – kesederhanaan yang anggun, yang membuka ruang partisipasi yang sadar, aktif, dan total, berbuah dan transender dari para peraya yang menyanyikannya. Serentak pada saat yang sama 5 aspek yang membingkai sebuah lagu liturgi dapat terjawab, yaitu bonum (baik), verum (benar), pulchrum (indah), fructum (berbuah) dan divinum (ilahi),” tuturnya.




[…] Baca juga: Menggalakkan Pengembangan dan Pembinaan Paduan Suara Menuju Pesparani 2026 […]
[…] dari Workshop pengurus bidang II LP3KN pada 11-13 April 2025 dan diperkuat dlm hasil MuNas pada 16-19 Mei 2025, […]