Pastor Muda dari Ujung Negeri: Membawa Semangat PESPARANI ke Munas III LP3KN

Pastor Muda dari Ujung Negeri: Membawa Semangat PESPARANI ke Munas III LP3KN

Mei 10, 2025 1 By Redaksi

LP3KD.OR.ID– Di tengah semarak Musyawarah Nasional III LP3K tahun 2025, hadir sosok muda yang membawa semangat misioner dari ujung Barat Indonesia. Dialah Pastor Budi Alen Agustinus Yosua Ratag, OCD—imam muda dari Keuskupan Manado yang kini menjalani karya pastoralnya di Banda Aceh. Lahir di Bangunan Wuwuk, Manado, pada 14 Agustus 1992, Pastor Budi adalah anak kelima dari enam bersaudara, buah kasih pasangan Ani Maria Sembel dan almarhum Darius Ratag.

Menapaki jalan panggilan sejak usia muda, Pastor Budi menjalani pendidikan teologi di Fakultas Kepausan Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Setelah mengikrarkan kaul kekal di Biara Karmel St. Theresia Lisieux pada 2021, ia ditahbiskan sebagai diakon oleh Uskup Petrus Turang, Pr dan menjadi imam penuh pada Mei 2022 melalui tangan Uskup Benedictus E. Untu MSC. Ia langsung diutus ke Banda Aceh, melayani di Paroki Hati Kudus Yesus sebagai diakon, lalu vikaris paroki—sebuah tantangan besar sekaligus berkat dalam hidup imamatnya.

Bagi Pastor Budi, kehadiran dalam Munas LP3K bukan sekadar memenuhi undangan. Ia datang dengan semangat, harapan, dan keyakinan bahwa Pesparani bukan hanya ajang lomba musik liturgi, tetapi sarana pertumbuhan iman. “Semua yang terlibat—pengurus, peserta, umat—harus melihat Pesparani sebagai kesempatan untuk memperkuat kepercayaan diri dalam melayani di Gereja, entah sebagai pemazmur, anggota koor, atau lektor,” ungkapnya.

Ia berharap Munas ini menghasilkan keputusan yang membangkitkan spirit kebersamaan, rasa persaudaraan, dan kebanggaan akan identitas Katolik. “Kita ingin Pesparani tak hanya menonjolkan sisi kompetitif, tapi juga memperdalam makna pelayanan dan kekayaan liturgi kita,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya memberi pemahaman yang benar tentang musik liturgis agar setiap lagu yang dinyanyikan menjadi doa, bukan sekadar hiburan.

Selama tiga tahun terakhir, Pastor Budi menyaksikan bagaimana umat di daerah minoritas tetap setia dalam pelayanan, kendati dalam keterbatasan. “Saya belajar banyak dari umat di Banda Aceh—tentang kesederhanaan, keteguhan, dan cinta Gereja yang tulus. Itu semangat yang ingin saya bawa ke forum nasional ini,” tuturnya.

Dengan motto tahbisan “Jagalah dirimu!” (Luk 17:3a), ia hadir sebagai perwakilan imam muda yang mengingatkan bahwa pelayanan harus dimulai dari diri sendiri, dari kedalaman iman pribadi. Ia berharap seluruh peserta Munas diberi kesehatan dan semangat hingga akhir kegiatan, dan bahwa Pesparani ke depan semakin menjadi gerakan iman yang merangkul banyak orang—bukan hanya yang tampil di atas panggung, tetapi juga mereka yang diam-diam mendukung dari balik layar.

“Mari kita jadikan Pesparani sebagai wajah Gereja yang bersukacita, bersatu, dan bersinar di tengah masyarakat,” tutupnya. Sebuah harapan yang mengalir dari pengalaman, pelayanan, dan iman seorang imam muda dari ujung negeri.

Share and Enjoy !

Shares